Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 April 2012

Empat Wanita Dambaan Syurga



Saat ini perempuan identik dengan kecantikan lahiriah, sampai-sampai banyak produk kecantikan yang member iming-iming kulit putih dalam waktu satu minggu. Sayangnya tidak jarang para perempuan tidak melihat berapa harga yang ditawarkan. Asal bias putih dan cantik, mereka berharap bisa  membayar  berapa pun. Padahal ada kecantikan yang tak akan pernah pudar yaitu yang ada dalam qalbu. Kecantikan itu berupa ketaatan kepada Allah, kesederhanaan, kelembutan dan pengorbanan.
Dalam Surat An-Nahl  (16) : 97 berbunyi : “Barangsiapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.
Melalui media elektronik kita bisa melihat, perempuan yang mempunyai paras cantik dan kepintaran, dipuja-puji di masa Miss Universe. Tak dapat dipungkiri, jika beberapa remaja mengidolakan mereka. Melihat fenomena tersebut, para ibu harus menanamkan pada anak-anak mereka sejak dini, bahwa perempuan yang didamba syurga bukan mereka yang bergelar Miss Universe atau Putri Indonesia, tetapi seperti yang ada dalam sebuah hadist berikut ini :
“Wanita paling utama di surga adalah Khadijah binti Kuwalid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imrah dan Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun.” (HR. Ahmad dan Thabrani) perempuan dambaan al-Quran adalah sebagaimana Khdijah, Fatimah, Maryam, maupun Asiyah. Kita sebagai perempuan harus meneladani sifat-sifat mereka, bukan meniru sifat-sifat idola/selebritis atau perempuan-perempuan yang  masih jauh dari syariat Islam atau masih melanggar perintah Allah.

sumber : “Adz Dzikro” – selebaran hari jumat, 20 april 2012

Jilbabku adalah Nilaiku


Berjilbab sesuai  syari’at dan berakhlaq baik adalah suatu kesempurnaan bagi kaum muslimin. Dengan jilbab akan membedakan wanita muslim dengan wanita kafir. Jilbab yang menjadi nilai bagi seorang muslimah sebagai lambang penghormatan kepada dirinya sendiri. Ia memilih berjilbab, berarti ia menginginkan keridhaan Alloh dan sangat mengetahui betapa berharga tubuhnya jika hanya untuk dipamerkan kepada yang bukan muhrimnya, betapa tubuhnya yang terbuka dapat menjadi penyebab timbulnya fitnah.
Karena kecantikan bukan di lihat dari keindahan tubuh yang terbuka, bukan itu. Itu hanya sementara. Jika tujuannya ingin dilihat menarik oleh lawan jenis dengan pakaian yang terbuka, yakinlah itu hanya sementara. Saat itu kau berjuang keras mempercantik diri untuk menarik hati lawan jenis atau untuk hal-hal duniawi, maka hatimu akan kecewa. Kenapa? Karena ternyata wanita-wanita lain akan melakukan hal yang sama. Dan kaupun akan kelelahan menampilkan kecantikan-kecantikan semu dalam dirimu.
Ada yang bilang, “mau berjilbab atau tidak, itu kan hak saya”. Tapi tubuh kita bukan hak kita. Status kita hanya dipinjamkan. Milik kita hanya roh yang ditiupkan ke dalam jasad yang Alloh pinjamkan. Bahkan roh itu sendiri berada dalam genggamanNya. Jika barang yang kita pinjamkan ke orang lain, kemudian orang tersebut merusaknya maka kita akan marah. Sama seperti Alloh. Alloh bebas melakukan apapun terhadap ciptaan-Nya. Jika amanah yang Dia berikan tidak dijaga dengan semestinya sesuai dengan perintah-Nya.
Sebab jilbabku adalah nilaiku, lambing kepatuhan kita kepada perintah Alloh. Penilaian hakiki hanya dari Allah, akan terpuaskan kita akan penilaianNya. Bukan Alloh tidak saying karena memerintahkan kita menutup aurat, padahal perempuan adalah makhluk yang indah. Karena keindahan tak selalu bisa dilihat secara gratis. Biar saja ada hinaan di sekeliling kita karena keistiqamahan kita menutup aurat. Karena kita adalah berlian mahal yang tak mudah terjamah  oleh sembarang orang dan bukan batu krikil yang banyak bertebaran di jalan-jalan dan mudah di pegang.
Sebab jilbabku adalah nilaiku, lambing keshalihan, insya Alloh. Yang karenya kita akan berusaha untuk meluruskan perilaku kita yang sebelumnya bengkok. Yang karenanya, semoga kita mampu menghilangkan gaya hidup barat yang kini makin merajalela. Yang karenanya kita akan terlindungi dari segala keburukan yang di timbulkan akibat perbuatan kita sendiri (membuka aurat). Yang karenanya kita bias menampilkan kenyamanan dalam berbusana (bukan pengekangan) sebagai contoh kepada mereka yang sinis terhadap jilbab.
Kita adalah hal terindah dan hanya untuk yang terindah jika kita mampu menjaga keindahan itu hanya untuk yang berhak memilikinya. Isya Alloh.
Oleh : kiptiah Hasan - sumber : “Adz Dzikro” – selebaran hari jumat, 20 april 2012

Menjadi Sebaik-baik Manusia



“Khairun naasi anfa’uhum linnaas.” Sebaik-baik manusia adalah siapa yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain.
Adalah aksioma bahwa manusia itu makhluk social. Tak ada yang bisa membantah. Tak ada satu orangpun yang bisa hidup sendiri. Semua saling ketergantungan. Saling membutuhkan.
Begitulah hati sanubari kita, selalu menginginkan pola hubungan yang saling ridho dalam mengambil manfaat bagi dirinya dengan cara yang baik. Kita anggap seburuk-buruk manusia orang yang mengambil manfaat banyak dari diri kita dengan cara yang salah. Apakah itu menipu, mencuru, dan mengambil paksa, bahkan dengan kekerasan.
Namun yang luar biasa adalah orang lebih banyak member dari mengambil manfaat dalam berhubungan dengan orang lain. Orang yang seperti itu kita sebut orang yang terbaik di antara kita. Dermawan. Ikhlas. Tanpa pamrih. Tidak punya vested interes.
Alas an kedua, karena ia melakukan amal yang terbaik. Kaidah usul fiqih menyebutkan bahwa kebaikan yang amalnya dirasakan orang lain lebih bermanfaat ketimbang yang manfaatnya dirasakan oleh diri sendiri. Apalagi jika spektrumnya lebih luas lagi. Amal itu bisa menyebabkan orang seluruh negeri merasakan manfaatnya. Karena itu tak heran jika para sahabat ketika ingin melakukan suatu kebaikan bertanya kepada Rasulullah, amal apa yang paling afdhol untuk dikerjakan. Ketika musim kemarau dan masyarakat kesulitan air, Rasulullah berkata membuat sumur adalah amal yang paling utama. Saat seseorang ingin berjihad sementara ia punya ibu yang sudah sepuh dan tidak ada yang merawat, Rasulullah menyebut berbakti kepada si ibu adalah amal yang paling utama bagi orang itu.
Ketiga, karena ia melakukan kebaikan yang sangat besar pahalanya. Berbuat sesuatu untuk orang lain besar pahalanya. Bahkan Rasulullah saw.berkata “Seandainya aku berjalan bersama  bersama saudaraku untuk memenuhi suatu kebutuhannya, maka itu lebih aku cintai daripada iktikaf sebulan di masjidku ini.” (Thabrani). Subhanallah.
Keempat, member I manfaat kepada orang lain tanpa pamrih, mengundang kesaksian dan pujian orang yang beriman. Allah SWT. Mengikuti persangkaan hambaNya. Ketika orang menilai ddiri kita adalah baik, maka Allah menggolongkan kita ke dalam golongan hambaNya yang baik-baik.
Oleh : Mochamad Bugi  - sumber : “Adz Dzikro” – selebaran Januari 2012

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management